Review Film : The Odd Life of Timothy Green (20/12/2012)

Beberapa kali ke kokem pengen beli ini film tapi masih ragu-ragu. Sampai akhirnya hari Rabu kemarin lihat cover dvd film ini sekali lagi di pojok rak yang sepi. Mungkin ditaruh di situ karena film ini memang bukan genre yang biasanya ngehits atau karena film ini sudah agak lama dirilisnya. Who knows? Jelas penjualnya dan Tuhan.

And so..here I am, sobbing. Sebenarnya film ini bukan genre mellow yang bikin nyesek tiap detiknya. Bukan.. Hanya film drama keluarga yang sangat menyentuh. 

Ceritanya diawali dari sebuah pertemuan calon orang tua dengan petugas pemeriksa adopsi. Aku kurang tahu, tapi sepertinya hal ini wajib dilakukan oleh setiap calon ayah dan ibu adopsi. Ceritanya, formulir mereka bermasalah karena mereka tidak menulis apapun mengenai pengalaman mereka merawat seorang anak. Mereka hanya menulis satu kata. Timothy. Dan di sinilah ceritanya dimulai. Pasangan itu adalah Cindy dan Jim Green. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai dan tidak pernah berhenti berusaha memiliki anak. Mereka tinggal di sebuah kota kecil (yang aku lupa namanya) yang sangat indah. Banyak pepohonan, jalan-jalan setapak, dan sebuah pabrik pensil yang menjadi kebanggaan seluruh kota di mana Jim bekerja. 

Suatu ketika, dokter kandungan pasangan Green mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus menyerah. Mereka tidak mungkin memiliki anak kandung. Tidak dengan cara apapun. Mendengar diagnosis dokter itu, Cindy dan Jim sangat terpukul, mereka menyadari bahwa mereka harus moving on. Maka, untuk meredakan kesedihan Cindy, Jim mengusulkan untuk mengingat anak yang tak akan mereka miliki, hanya satu malam saja. Malam itu mereka menulis berbagai hal yang diinginkan dari anak mereka. Seorang anak yang baik, jujur, memiliki tangan Picasso, bisa memasukkan gol kemenangan, keren dalam musik dan yang paling penting mereka menginginkan seorang anak yang tidak sempurna.

Mereka menulis harapan-harapan mereka dalam lembar-lembar note, menyimpannya dalam kotak kayu dan menguburnya. Malam itu, tanpa mereka sadari seorang anak yang pada kakinya tumbuh daun-daun masuk ke dalam rumah mereka, penuh lumpur. Anak ini memperkenalkan diri sebagai Timothy (nama yang mereka pilih sebagai nama putra mereka). Dia menyenangkan dan ceria, tidak malu-malu dan jujur. Ketika Cindy dan Jim meminta Tim memilih panggilan apa saja untuk mereka, tanpa canggung Tim memanggil mereka dengan sebutan Mom dan Dad. Dari sini, Tim kemudian tinggal bersama keluarga Green. Satu per satu harapan yang Cindy dan Jim tuliskan di note itu menjadi kenyataan. Bersama dengan ini, pasangan Green belajar menjadi seorang ibu dan ayah yang tidak sempurna. Menjadi orang tua yang lebih baik daripada orang tua mereka. Dalam perjalanannya, mereka selalu melakukan kesalahan. Namun mereka melakukan yang terbaik yang mereka bisa, karena mereka mencintai Timothy. Masalahnya, ada satu hal yang dirahasiakan Tim kecil. Daun-daun di kakinya mulai berguguran. Dan tak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah semua daun di kakinya gugur.

Alur cerita yang disajikan film ini bukanlah film dengan tingkat klimaks yang tinggi, namun cenderung mengalir bagaikan air, meskipun bukan berarti membosankan. Tidak, film ini tidak membosankan. Tingkah-tingkah lucu Tim dan kekonyolan sikap pasangan Green dalam merawat Tim memberi gambaran bagaimana pasangan-pasangan muda bereaksi dalam kehidupan sehari-hari. Satu-per satu orang dalam kehidupan Green mulai tersentuh dengan kehadiran anak ajaib yang pintar melucu ini. 

Yang paling aku sukai, lagi-lagi, adalah setting, pengambilan gambarnya, sound effect yang luar biasa dan soundtrack yang pas sekali dengan setiap adegannya. Satu adegan yang paling aku suka adalah adegan hujan saat Timothy pertama kali muncul di rumah keluarga Green. Serius! Yang aku suka adalah adegan hujannya. Hahahha. Aneh.. Tapi kalian harus lihat sendiri adegannya. Setiap aspek yang ditampilkan seperti saat mata kita melihat dan telinga kita mendengar semuanya sendiri. Suara ketika air hujan pertama kali menyentuh daun, tanah, suara air hujan yang deras menimpa atap rumah, suara gunturnya, sangat nyata. Begitu nyata, sampai aku bisa membayangkan basah kehujanan. Begitu nyata, sampai aku bisa membayangkan begitu nikmatnya bergelung di dalam selimut seperti yang saat itu dilakukan Cindy.

Film ini bukan jenis film cengeng yang di ending membuat kita sakit hati. Kehadiran Timothy dalam keluarga Green mewujudkan harapan-harapan mereka tentang anak yang mereka inginkan. Namun lebih penting lagi adalah, Timothy memberikan mereka semangat dan kekuatan untuk terus melanjutkan hidup mereka. Menyadarkan mereka bahwa hal-hal yang mereka pikir tidak mungkin, bukan berarti tidak mampu diwujudkan. Demi Timothy dan diri mereka sendiri, Cindy dan Jim mulai mengerjakan impian-impian mereka. Kalimat terakhir yang diucapkan Timothy pada pasangan Green “Never give up.”

Jadi, over all 3.8 of 5 :D

5 months ago

"You do stupid things when you’re a lone and think no one sees you"

- Me

5 months ago

during the busiest week

This time this day, I need what it’s called a break. My ideal break now would be a shopping, a haircut and a theater ticket. Simple.. but I just don’t have the time. I want to complain but hell..I can’t. I love this time, this team, this hurdle. I think this is one of the moment that I’ll be missing in the future not far from now. 

29.11.2012

5 months ago

"I think I am much more a mountain girl rather than the beach girl"

- Me

5 months ago

by TheTreeSpeaks

5 months ago

by JoyHey

5 months ago

o-dyssea:

oh-totoro:

Studio Ghibli’s 2012 commercial for the Nisshin Seifun Group.

 indie, nature , spiritual here 

(via coloredmondays)

5 months ago 186,306 notes

(via paintthisheart)

5 months ago 14,453 notes
12th
November
19,617 notes
Reblog
the-absolute-funniest-posts:

Follow this blog, you’ll love it on your dashboard!

the-absolute-funniest-posts:

Follow this blog, you’ll love it on your dashboard!

(via not-a-care-in-the-world)

6 months ago 19,617 notes

Me :)

6 months ago